Madcoms, April 2021


Sesuatu yang dilakukan tidak sepenuh hati, cenderung akan memberikan rasa yang tidak nyaman. Mungkin itulah yang awalnya dirasakan oleh kak Novia Muranti. alumni Madcoms Madiun lulusan SMAN 1 Pilangkenceng Madiun.


Bagaimana tidak, dara cantik yang semula ingin mendaftarkan diri sebagai “angkatan” ini mengaku menjadi mahasiswa Madcoms Madiun lantaran dipaksa oleh orangtua. “Aku sebenernya itu gak minat kuliah lo, terus sama orangtua dipaksa kuliah, dari kuliah S-1 mana pun pokoknya aku gak mau, terus dicarikan sama orangtua, ya udah aku akhirnya nurut masuk Madcoms, sampai aku itu tidak ikut pembekalan karena memang ya tidak mau kuliah” kata mbak Novia dalam sesi wawancara yang dilakukan oleh staff Public Relations LPKBM Madcoms.


Tapi disini lah hikmah yang bisa kita petik. Arahan dari orangtua untuk mengambil jalur pendidikan dan pelatihan kerja di LPKBM Madcoms Madiun. Pada hasil akhirnya malah membawa mbak Novia sukses berkarir dalam pekerjaan yang dijalaninya sekarang. “Yang pastinya, awal aku masuk Madcoms itu kan bukan karena kemauanku ya, tapi Alhamdulillah Ya Allah, hasilnya sangat luar biasa ilmu-ilmunya! Lewat Madcoms akhirnya sekarang saya bisa bekerja di kantor Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) Madiun sebagai staff administrasi”


 

Ketika ditanya soal kesan-kesan yang di dapat selama mengikuti pendidikan 1 tahun di LPKBM Madcoms Madiun, mbak Novia menjawab, “kalo potensi dosen, instruktur dan pengajarnya sih udah lah gak perlu diragukan lagi, bukan kaleng-kaleng lah, itu kalo di Jakarta atau di kota-kota besar, standar ilmu terapan yang ada di Madcoms itu sudah pasti mehong (mahal, red) pake banget, silahkan di survey kalau tidak percaya!”


“Yang membedakan Madcoms dengan sekolah atau lembaga lain itu sebenarnya banyak, cuma kalau dari saya pribadi, Madcoms itu dia apa ya, dia gak muluk-muluk gitu promosinya, simple (sederhana, red) tapi langsung to the point (pada intinya, red)! Kita gak akan menemukan sosialisasi Madcoms itu yang memberikan iming-iming 100% bahkan 1000% janji apalah inilah, kayak gitu itu enggak ada, sosial medianya aja sepi, cari di internet paling juga tidak seramai lembaga lain, minimalisnya itu kadang-kadang keterlaluan gitu lo. Tapi jangan salah, ternyata di dalamnya itu WE-O-WE!” sambung mbak Novia.


Hanya saja ada sedikit otokritik yang disampaikan mbak Novia sebagai ungkapan sayangnya kepada LPKBM Madcoms Madiun. “Seragamnya aja sih, gak matching (sesuai, red) sama milenial (anak muda jama sekarang, red) kayak kita-kita gitu lah, kesannya kayak kita itu kuliah di jaman orangtua kita dulu, warna almamaternya itu gak jelas menurutku, putih tidak, pink juga tidak, coklat juga bukan, kuning juga gak keliatan sama sekali, pucat, kayak kurang fresh (menarik, red) aja gitu. Ya, saya berharap sih, ada perubahan deh, soalnya Madcoms itu kan tempatnya orang-orang super kreatif ya, jadi mesti ada ciri khas yang mencolok gitu lo” lanjut mbak Novia.


Penulis yang sempat merasa sesak nafas mengetahui kejujuran dan kepolosan mbak Novia ketika berkomentar, dalam hati merasa bersyukur, karena masih ada orang jujur yang secara gamblang memberikan testimoni dan kesan-kesan kepada sebuah lembaga, mungkin artikel seperti ini hanya bisa ditemui di laman resminya LPKBM Madcoms Madiun seperti ini. Sesuatu yang perlu di apresiasi, sebagai motivasi yang membangun LPKBM Madcoms Madiun, untuk bisa menjadi Sekolah Komputer, Bisnis dan Manajemen yang selalu bisa mengaktualisasi diri.


Selesai

By Madcoms

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *