Mindset adalah pola pikir, yaitu cara seseorang dalam menentukan sebuah sudut pandang dari suatu pemikiran yang menjadi dasar pemahaman dan keyakinanannya. Pemahaman dan keyakinan inilah yang menjadi alasan seseorang dalam menentukan keputusannya.

Sebagai contoh, apa yang akan kita lakukan ketika saat ini, kita menerima uang Rp. 100.000. Sebagian dari kita mungkin akan berpikir konsumtif, sebagian lain berpikir produktif. Artinya, sebagian dari kita yang berpikir konsumtif, secara spontan, mungkin akan terpikir sebuah ide untuk “beli apa” atau “belanja apa”, sedangkan kita yang berpikir produktif, secara spontan juga akan terpikir sebuah ide untuk “dibuat modal apa” atau “bagaimana mengembangkannya”.

Pola pikir bisa dibentuk dari ilmu pengetahuan, pergaulan lingkungan sosial sampai tradisi yang dibawa secara turun temurun. Semua informasi yang kita dapatkan dari luar akan di proses dalam otak. Itulah yang disebut dengan proses berpikir.

Dengan berkembangnya teknologi yang membuka akses informasi yang begitu luasnya, sehingga bisa memberikan kita banyak referensi sebagai bahan pemikiran, kita harus terbiasa berpikir kritis, logis dan analitis dalam memilah dan memilih, mana informasi yang akurat dan relevan, tetap dengan memperhatikan, peluang dan resikonya.

Beberapa tips dibawah ini, bisa kita jadikan bahan latihan, untuk membantu kita dalam proses berpikir, secara kritis, logis dan analitis.


CEK FAKTA

Ketika kita mendapatkan sebuah informasi, usahakan untuk selalu cek fakta dan kebenarannya. Jangan mudah percaya dengan informasi yang belum pernah kita buktikan sendiri kebenarannya.

Apalagi jika informasi tersebut, cenderung membawa kita pada sebuah ajakan atau seruan untuk melakukan sesuatu. Hal seperti inilah yang sering dijadikan modus dari banyaknya oknum yang melakukan tindak penipuan. Ciri-ciri yang paling sering ditemui adalah terlalu banyak memberikan “iming-iming”. Jika kita masuk dalam jebakan “iming-iming” tersebut, akibat kita yang kurang waspada, maka ini bisa berakibat fatal.

Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengetahui sebuah fakta atau sisi kebenaran dari sebuah informasi. Salah satu cara yang banyak digunakan oleh orang-orang yang terbiasa berpikir kritis dan analitis adalah, mencari sisi baik dan sisi buruk dari informasi tersebut, sebagai bahan pertimbangannya. Karena walau bagaimana pun juga, bukankah segala sesuatu mempunyai sisi positif dan negatif?


UKUR PELUANG & RESIKONYA

Bukan menakut-nakuti, cuma tidak ada salahnya kan bersikap waspada dan hati-hati. Mungkin kamu pernah mendengar beberapa orang berkata seperti ini “jangan kebanyakan mikir, nanti keburu terlambat” atau “proses tidak akan mengkhianati hasil” atau “percayalah, semua akan indah pada waktunya”.

Pertanyaan adalah, mana yang lebih sering terjadi “impian yang melebihi harapan” atau “realita yang sesuai ekspektasi” atau malah justru kebalikannya? Mereka yang berpikir cepat dan bisa mengambil keputusan tanpa ragu, sebenarnya adalah orang yang sudah memiliki jam terbang dan pengalaman yang lebih dari cukup untuk mempertimbangkan peluang dan resiko. Kalau memang peluangnya bisa tembus dan kita bisa mencapai apa yang diharapkan dan direncanakan, tinggal menikmati dan mensyukurinya.

Tapi kalau ternyata tidak sesuai harapan dan rencana, sudahkah ada solusi untuk resikonya? Harus terjawab! Sudahkah ada solusi untuk resikonya? Ya! Kita bisa melatih pemikiran kita untuk mencari solusi-solusi alternatif dari kemungkinan terjadinya resiko, dengan begitu, andaikata rencana kita gagal, kita tidak terlalu berada dalam keadaan yang terpuruk.


MELATIH NALAR & LOGIKA

Berbicara masa depan, sama dengan bicara prediksi. Bisa saja terjadi, bisa juga tidak. Namanya juga prediksi. Seperti halnya ketika kita melihat cuaca yang sedang mendung. Apakah pasti turun hujan? Kemungkinan besar iya. Tidak jadi hujan, bisa jadi. Itulah yang dinamakan prediksi.

Bagaimana sebuah prediksi bisa muncul, tentu akal dan logika penalaran yang menjadi penentu utamanya. Seperti soal cuaca mendung tadi. Pertanyaannya, apakah turun hujan? Secara logika atau akal penalaran kita akan menganalisa secara ilmiah atau secara ilmu pengetahuan, bahwasannya awan mendung adalah awal pertanda datangnya hujan. Masuk akal bukan?

Meskipun begitu, kemungkinan tidak terjadinya hujan itu tetap masih ada, meskipun kecil. Kebiasaan berpikir seperti inilah yang dinamakan dengan melatih nalar dan logika. Diluar faktor alam, takdir, atau kuasa Tuhan, manusia tentu harus berpikir secara logis sesuai kadarnya, sehingga manusia bisa memaksimalkan ikhtiar. Bukankah memang manusia diwajibkan untuk berikhtiar, bukan hanya diam & mengharapkan keajaiban turun dari langit secara tiba-tiba. Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk melatih nalar dan logika kita, namun cara yang terbukti paling efektif adalah memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan.

Apakah itu dengan membaca, aktif berdiskusi, menonton tayangan edukatif, mengikuti seminar, mengikuti pelatihan, melakukan konseling dengan seorang ahli atau orang yang sudah diakui keilmuannya, apa saja yang bisa menambah ilmu pengetahuan kita, akan menambah nalar dan logika pemikiran kita, semakin kritis dan analitis.


KESIMPULAN

Di zaman yang dimana semua orang pandai membuat “kemasan” serta bisa membuat dan mempublikasikan bermacam-macam informasi, kita harus pandai memilah dan memilih, mana informasi yang sesuai dan relevan dengan apa yang menjadi tujuan atau harapan kita ke depan.

Seperti halnya ketika kita ingin memasak ayam goreng, tentu kita akan berpikir segala sesuatu yang berhubungan dengan ayam goreng, bukannya memasak sayuran atau mengolah daging ikan. Mungkin hal itu diperlukan sebagai tambahan referensi, sebagai acuan untuk melakukan modifikasi. Namun bukan menjadi sumber pemikiran utamanya. Oleh karena itu, mulai sekarang, mari kita melatih diri kita untuk terbiasa berpikir secara kritis, logis, dan analitis.


By Madcoms

Leave a Reply

Your email address will not be published.